Catatan di Penghujung 2011
Dua Ribu Sebelas… sejarah baru itu disini saya memulainya. Mencoba kembali membuka hati setelah terpuruk dalam di jurang yang terdalam sehingga sulit untuk bangkit lagi. Mencoba melangkah dengan langkah yang baru walaupun ternyata tak seperti apa yang saya fikirkan. Tapi di Dua Ribu Sebelas ini begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan; persahabatan, pengorbanan, keikhlasan, dan kesabaran, pendewasaan, serta tak lupa juga cinta dan mencintai.
Memulai Januari 2011 dengan sebuah lembaran kehidupan baru, mencoba mengenal seseorang. Yah…. Bukan sekedar mengenal tapi ingin melengkah sejauh mungkin. Menapaki batu kerikil, melawati samudra yang luas dan terjangan angin yang deras. Hmmm.. aku ingat inilah untuk pertama kalinya setelah kepahitan dijaman silam itu aku mencoba menyatakan sesuatu yang di ujung lidah tapi menyangkut ditenggorokan. Aku meminang seseorang, dalam benakku inilah saatnya aku mengakhiri pe-lajang-anku. Aku sangat yakin inilah pilihan ku, bahkan akupun sudah menyatakan melamarnya.
Ternyata memang benar Tuhan tidak membiarkan umatnya tanpa sedikit cobaan. Setelah begitu yakinnya aku, setelah aku berkeringat dingin menghadapi orangtuanya, ternyata Tuhan berkehendak lain. Hanya karena masalah “sepele” saya menyatakan mundur. Walaupun awalnya aku tetap ingin bertahan. Disinilah aku berlajar kembali pelajaran lama tentang “seyakin apapun kita, kita tidak boleh lupa masih ada yang berhak menentukan jalan hidup kita” belajar ikhlas.
Cukup juga aku membiarkan diriku untuk tidak memikirkan tentang hal ‘itu’ lagi. Aku mencoba menggilai pekerjaanku. Proposal, laporan pekerjaan itu mengalihkan perhatianku sejenak. Aku cukup larut dengan semua itu. Tak ada sesal, tak ada bekas luka, tak ada bayang-bayang tentang kegagalan ‘itu’. Sampailah akhirnya pertengahan Mei 2011 teman memperkenalkan suadaranya kepadaku. Entahlah mungkin aku tidak ingin menciptakan satu dilema baru, dengan sangat cepat aku mengatakan “aku tidak bisa”, lalu dia bertnya kenapa? Aku sempat bingung untuk memberikan alasan apa. Dan entah bagaimana terlintas begitu saja “jarak terlalu jauh antara kau dan aku, aku tidak bisa melindungi dan menjagamu, memperhatikanmu, dan bla,,bla,,bla” ternyata itu berhasil. Tidak ada yang tersayat luka dan teriris sembilu. Semua bisa menerima alsanku itu. Padahal itu adalah alasan yang klise. Ya kan???
Aku kembali sibuk dengan survey, proposal, dan pengawasan lapangan. Walaupun gaji yang tersendat. Bahkan saat itu ada ‘isue’ yang beredar tidak ada anggaran gaji untuk kami faskel. Aku cuek, progress kerja tetap aku kejar. Ke lapangan setiap hari. Dan hasilnya akupun tetap merasa sepi.
Hari itu entah bagaimana aku mengikuti sebuah pengajian rutin yang diadakan teman-teman se-pengajian. Padahal aku sudah lama juga tidak ikut. Dan setelah selesai pengajian salah seorang ustadnya langsung saja menghampiri saya “kamu itu sudah layak menikah, kenapa kamu belum menikah juga? Apa yang kamu tunggu? Kalu tidak berusaha kamu gak bakal nikah-nikah?”. Waduh, aku harus jawab apa, aku bingung dan spontan aku menjawab “ belum ada calon ustadz”. Dan ternyata itu jawaban saya adalah perangkap yang sudah dibuat oleh ustadz itu agar dia bisa mengenalkan salah seorang kenalan isterinya. “Ada”.. “Soleh, Cantik, PNS, dan kamu dijamin gak nolak” aku sebenarnya bingung mau menolak tapi tak enak karena sudah dibilang soleh dan cantik (hehehehe.. dasar ya…*manusiawi kan??) kalua PNS yang kemaren-kemaren juga PNS. Udah biasalah dengarnya (Iiih.. sombong). “ Bagaimana? Mau dikenali gak?” saya pura-pura mikir sambil liat-liat flapon masjid itu. Jangan kelamaan mikir entar dimabil orang. Dan tahu kan apa yang akhirnya saya katakana kepada ustad itu? “Hmmm.. boleh ustd…” dengan gaya malu-malu gitu.
Setelah hari itu saya memberikan data dan photo saya, kali ini melalui jalur ‘resmi’ tidak yang seperti kemaren-kemarin. Dan ‘dia’ setelah liat data dan photo saya dia memberikan data dan photo dia. Dan kita sepekat ‘cocok’. Nah, lho..
Seminggu kemudian saya beserta ustad tadi berkunjung dan kembali melamar. Semua beres…
Pas waktu itu bulan puasa, semagat puasa dan beribadah meningkat dari tahun sebelumnya. Harapan saya entar kalau jadi ‘imam’ sudah bisa sedikit-sedikit memberikan penjelasan dan pencerahan.Tepi siapa nyana, gara-gara adap pesta nikah, lagi-lagi “BATAL KAWIN”… Heh, belajar lagi pelajaran baru “mau pakai jalur resmi atau tidak resmi kalau belum jodoh juga gak akan bisa bersatu” kembali deh ikhlas dan sabar.
Lebaran sudah terlewati. Lebaran kemaren saya menjadi ‘baby sister’, tidak lucukan, biarlah lucu yang penting saya bisa melupakan apa yang sepatutnya dilupakan. Berharap dengan ikut teman ke kampong halamannya saya bisa melupakan “gaji telat, gagal kawin, dan sebagainya”. Sebenarnya saya malas menulis kata yang satu ini yaitu “tetapi” rupanya disana akupun diberondong pertanyaan “kapan nih nikah?? Nih, temanmu sudah mau dua anaknya. Jangan tahun depan belum nikah juga ya, malu sama kepala..” diiringi gelak tawa. Duh, gak bisa deh ditulis kata-kata apa yang ada disana dihatiku. Memang rambutku sudah mulai menipis, menipisnya sudah dari SMU kelas 2. Tapi gak usah disangkutpautkan dengan nikah kenapa??
Lebaran berlalu memulai lagi aktivitas yang tertunda selama lebaran, proposal, progress lapangan dan sebagainya. Dan tetap gaji belum juga ada kabarnya. Malam itu sedang facebook-an adek tingkat sms tanpa babibu dia bertanya “bang…sudah siap nikah belum? Ada nih kenalanku lagi S2 cari calon suami?” membaca sms itu tentu saja naluri leleki ku bangkit. Dan langsung saja aku balas “emang benar dia siap nikah?? Kalau iya bolehlah kamu kenalkan”. Hahahahaha….. jadilah kita berkenalan. Janji awal 2012 kita melanjutkan ke tahap yang lebih.. lebih serius… satelah PPL nya bukan setelah tamat S2 nya..
Mau tau cerita selanjutnya bagaimana? Atau sudah tahu ceritanya bagaimana? Saya yakin pada tahu cerita selanjutnya itu seperti apa. Yappp… benar sekali “GAGAL MANING!!!!” kan tahu tuch. Kanapa, kali ini bisa gagal???? Karena setelah pertama dia bilang ke orangtuanya, mereka setuju nikah sebelum tamat S2. Nah, setelah tahu kondisi saya yang bukan PNS dan dengan gaji yang tak menentu dibayarnya (kesimpulan saya), orangtuanya gak setuju kalau sebelum tamat S2. Sebenarnya gak masalah menunggu dia tamat S2. Tapi lagi, masalahnya siapa yang berani menjamin setelah sakian bulan saya menunggu dia menikahnya dengan saya? Gak ada khan…????. Nah dikarena hal itu saya mengundurkan diri. Mencoba menemukan yang lain.
Sebenarnya mamang untuk melamar seseorang tuh harus PNS yah? Gak kan? Tapi sudahlah, semua pasti ada hikmahnya, mungkin ini juga bagian imbas buruk dari saya yang menolak beberapa yang tidak saya ceritakan. Semua tentunya ada pelajaran berharga didalamnya. Belajar untuk tidak cepat yakin, tidak cepat puas, bersabar, dan ikhlas.
Dua Ribu Sebelas, terimakasih.. sudah mengajari aku berbagai macam hal yang belum aku pernah rasakan jadi merasakan. Yang belum pernah aku lewati jadi pernah aku lewati. Dan tak ada di dunia nyata “Ku Pinang Engakau dengan Bismillah”. Tapi, semua indah. Semoga 2012 cukup ada satu cerita cinta yang akan berakhir dipenghujung masa. Menapakai masa depan lebih baik, gaji lancar, aman, dan terkendali. Dan buat mereka yang pernah tersakiti dan menyakiti, semua itu diluar kuasa kita sebagai manusia. Kita telah berusaha, berdo’a, kehendakNya jua lah yang berlaku diatas dunia ini Kum fayakun.. maka jadilah kehendakNya.
(2011 in memories)
Note: Mohon Maaf Jika Ada Kesamaan Tempat dan Kejadian Peristiwa…

Komentar
Posting Komentar